Di Balik Liputan Din Minimi, Kisah Menegangkan Seni Hendri dan Ismail Abda di Pedalaman Aceh Timur
![]() |
| Seni Hendri, S.H., Ketua Persatuan Wartawan Aceh Timur (PESAWAT). |
ACEH TIMUR | TIMUTODAY.COM — Sebuah liputan jurnalistik tidak selalu lahir dari ruang redaksi. Ada kalanya, seorang wartawan harus menempuh perjalanan panjang, masuk ke pedalaman, berhadapan dengan situasi mencekam, bahkan mempertaruhkan keselamatan demi mendapatkan informasi.
Pengalaman itu pernah dialami Seni Hendri, Ketua Persatuan Wartawan Aceh Timur (PESAWAT), yang saat itu masih bertugas sebagai wartawan Serambi Indonesia.
Sekitar tahun 2014, Seni Hendri bersama Ismail Abda, yang saat itu bertugas sebagai wartawan Metro TV, mengikuti perjalanan ke pedalaman Aceh Timur untuk menemui kelompok sipil bersenjata yang dipimpin Din Minimi.
Perjalanan tersebut bermula setelah salat Jumat.
Menurut cerita Seni Hendri, saat itu Safaruddin, Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), mengatakan bahwa setelah salat Jumat mereka akan bertemu dengan kelompok bersenjata.
Dari masjid, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan pegunungan dan hutan di pedalaman Julok.
Tiba-Tiba Dikepung Kelompok Bersenjata.
Suasana berubah tegang ketika rombongan tiba di lokasi.
Seni Hendri mengaku tiba-tiba melihat anggota kelompok Din Minimi muncul dari belakang dengan membawa senjata lengkap, termasuk AK-47.
Dalam kondisi tersebut, rasa takut langsung muncul.
“Saya berpikir dalam hati, mati saya hari ini. Apalagi saya tidak bisa bahasa Aceh,” kenang Seni Hendri.
Wawancara kemudian dilakukan di sebuah gubuk di tengah kawasan hutan.
Ismail Abda yang saat itu menjadi wartawan senior melakukan wawancara dengan Din Minimi. Di hadapan mereka, senjata diletakkan begitu saja, sementara Dini Minimi menyampaikan pandangannya terkait kondisi politik dan menyatakan penentangannya terhadap pemerintahan Zaini–Mualem.
Seni Hendri memilih lebih banyak diam.
“Saya tak banyak bicara karena takut ditembak,” ujarnya, Selasa (25/08/2026).
Namun, tugas jurnalistik tetap dijalankan. Seni Hendri mengambil dokumentasi berupa foto dan video serta mengumpulkan dokumen yang diperlukan untuk kebutuhan pemberitaan.
Setelah liputan selesai, keduanya kemudian meminta izin untuk meninggalkan lokasi.
Berita Masuk Halaman Utama.
Setelah kembali, Seni Hendri dan Ismail Abda berkoordinasi dengan pimpinan redaksi.
Hasil liputan tersebut kemudian diterbitkan Serambi Indonesia dan menghiasi halaman utama keesokan harinya.
Kemunculan kelompok sipil bersenjata tersebut sontak menggemparkan Aceh dan menjadi perhatian publik.
Namun, setelah berita terbit, persoalan baru muncul.
Pagi harinya, Seni Hendri mendapat telepon dari Kapolres Aceh Timur, AKBP Muhajir kala itu.
Ia diminta datang ke rumah dinas Kapolres.
Dalam pertemuan tersebut, Kapolres menyampaikan pernyataan yang hingga kini masih diingat Seni Hendri.
Keesokan harinya, tanggapan Kapolres kembali diberitakan. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kelompok Din Minimi akan ditangkap, baik hidup maupun mati.
Ketika Wartawan Ikut Merasakan Tekanan.
Situasi tersebut membuat Seni Hendri semakin khawatir.
Apalagi, ia mendapat informasi bahwa dirinya kemungkinan akan dimintai keterangan oleh intelijen Polda Aceh terkait pertemuan dengan kelompok bersenjata tersebut.
Di tengah kekhawatiran itu, Ismail Abda memberikan dukungan.
“Tenang saja. Berhadapan dengan Kapolres dan Intel Polda nanti saya dampingi,” kata Ismail Abda kepada Seni Hendri.
Kalimat tersebut membuat Seni Hendri merasa lebih tenang.
Bertahun-tahun kemudian, pengalaman tersebut tetap menjadi salah satu perjalanan jurnalistik yang paling berharga sekaligus paling mengerikan dalam hidupnya.
Pelajaran dari Sebuah Liputan
Bagi Seni Hendri, pengalaman tersebut bukan sekadar cerita tentang sebuah liputan berisiko tinggi.
Ada pelajaran tentang keberanian, solidaritas dan tanggung jawab dalam menjalankan profesi jurnalistik.
Seni Hendri mengenang Ismail Abda sebagai sosok senior yang tidak pernah membiarkan wartawan yang dibimbingnya menghadapi persoalan seorang diri.
“Ketua Ismail Abda tidak pernah melepaskan kita sendiri dalam kesulitan. Beliau sangat telaten membimbing dan mengoreksi setiap kesalahan anak didiknya,” ujar Seni Hendri.
Kini, pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan panjang Seni Hendri sebagai wartawan hingga dipercaya memimpin Persatuan Wartawan Aceh Timur (PESAWAT).
Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa di balik sebuah berita besar, terkadang terdapat keberanian, ketakutan, persahabatan dan solidaritas yang tidak pernah tertulis seluruhnya di halaman koran.
Bagi Seni Hendri, pengalaman bersama Ismail Abda di pedalaman Aceh Timur itu menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.
“Semoga pengalaman ini bisa menginspirasi kita semua untuk selalu menjaga kekompakan dan kebersamaan. Salam persahabatan.”

Posting Komentar