Dari Baglog Menjadi Berkah, Kisah UMKM Jamur Tiram Binaan Medco E&P Malaka di Aceh Timur
![]() |
| Tgk M Nur saatt memperlihatkan Boglog Jamur Tiram. Foto: Freeline News. |
ACEH TIMUR | TIMURODAY.COM – Di balik sederhana bangunan kumbung jamur, tersimpan kisah tentang ketekunan, keberanian berwirausaha, dan harapan membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Usaha budidaya jamur tiram yang ditekuni Tgk Muhammad Nur, warga Desa Teupin Raya, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, menjadi salah satu potret usaha lokal yang tumbuh melalui keterampilan dan dukungan pembinaan perusahaan.
Perjalanan usaha tersebut bukanlah sesuatu yang dibangun dalam semalam. Tgk Muhammad Nur telah menekuni budidaya jamur tiram sejak 2019. Melalui proses belajar dan pengembangan usaha, ia kemudian memperoleh pembinaan dari PT Medco E&P Malaka, perusahaan yang menjalankan kegiatan operasional migas di wilayah Blok A, Aceh Timur.
Dalam pemberitaan beberapa media online pada Juni 2024, usaha yang dikelolanya dilaporkan mampu menghasilkan panen sekitar 15 hingga 20 kilogram jamur tiram per hari. Pada periode yang sama, ia juga menerima bantuan tambahan bangunan kumbung jamur dari perusahaan tersebut.
Jamur tiram yang dihasilkan tidak hanya dipasarkan dalam bentuk segar. Tgk Muhammad Nur juga mengembangkan produk olahan berupa jamur crispy untuk memperluas pilihan konsumen.
Hasil panennya dipasarkan ke sejumlah pasar di kawasan Kuta Binjei, Kecamatan Jalok, Kabupaten Aceh Timur. Aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana komoditas pertanian sederhana dapat menjadi sumber pendapatan ketika dikelola secara produktif dan memiliki akses pemasaran.
Lebih dari sekadar menghasilkan produk, usaha ini juga membuka kesempatan kerja. Berdasarkan laporan tahun 2024, kegiatan budidaya tersebut telah mempekerjakan enam orang.
Bagi usaha mikro, kemampuan mempertahankan produksi sekaligus melibatkan tenaga kerja menjadi bagian penting dalam membangun usaha yang berkelanjutan.
Perkembangan usaha Tgk Muhammad Nur juga terlihat dari kemampuannya memproduksi baglog jamur sendiri. Baglog merupakan media tanam yang menjadi tempat tumbuh jamur tiram.
Kemampuan memproduksi baglog secara mandiri membuka peluang untuk memperkuat rantai usaha, mulai dari penyediaan media tanam hingga pemasaran hasil panen.
Dalam laporan yang sama, Tgk Muhammad Nur disebut pernah memasok baglog ke Banda Aceh serta mendukung kegiatan budidaya melalui Rumah Pemberdayaan Ibu dan Anak (RPIA) di Julok dan Indra Makmu.
Ia juga pernah membina usaha budidaya jamur tiram di kawasan Keude Gerobak dan Desa Pulau Blang, Kecamatan Idi Rayeuk, serta berbagi pengetahuan kepada masyarakat dan kelompok koperasi.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa keterampilan usaha memiliki nilai lebih ketika tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat lain.
Dukungan terhadap usaha masyarakat merupakan salah satu aspek penting dalam program pengembangan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Dalam konteks budidaya jamur tiram ini, bantuan sarana produksi dan pengembangan kapasitas dapat menjadi modal untuk memperkuat usaha lokal.
Namun, keberlanjutan UMKM tidak cukup hanya ditopang oleh bantuan awal. Ketersediaan bahan baku, keterampilan teknis, akses pasar, pengelolaan keuangan, dan inovasi produk turut menentukan kemampuan usaha bertahan dalam jangka panjang.
Karena itu, pengembangan usaha seperti budidaya jamur tiram berpeluang memberikan manfaat lebih luas apabila didukung pendampingan berkelanjutan, perluasan jaringan pemasaran, serta peningkatan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola produksi dan nilai tambah produk.
Bagi masyarakat di Aceh Timur, model usaha ini juga dapat menjadi inspirasi bahwa peluang ekonomi tidak selalu harus dimulai dari usaha berskala besar. Dengan keterampilan, ketekunan, dan dukungan yang tepat, potensi lokal dapat dikembangkan menjadi sumber penghidupan.
Kisah budidaya jamur tiram Tgk Muhammad Nur memperlihatkan pentingnya hubungan antara inisiatif masyarakat dan dukungan pemberdayaan. Masyarakat menjadi pelaku utama yang menjalankan usaha, sementara pembinaan dapat membantu memperkuat kapasitas dan membuka peluang pengembangan.
Ke depan, potensi usaha jamur tiram di Aceh Timur dapat dikembangkan melalui diversifikasi produk, peningkatan kualitas kemasan, perluasan pemasaran, serta pembentukan jejaring antarpelaku UMKM.
Dengan demikian, keberhasilan sebuah program pemberdayaan tidak hanya diukur dari bantuan yang disalurkan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mengembangkan usaha secara mandiri, menciptakan lapangan kerja, dan mempertahankan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Oleh: Romi Syahputra, ditulis sebagai tugas lomba karya jurnalistik PT Medco E&P Malaka Blok A tahun 2026 dengan tema: Dari Blok A untuk Aceh Timur, Kisah UMKM Yang Tumbuh. Jum'at (30/10/2026).

Posting Komentar