Tiga Ekor Gajah Berkeliaran di Ladang Warga Banda Alam, Masyarakat Minta Pagar Penghalau Segera Dibangun

Keuchik Jambo Reuhat, Zulhelmi, dan Keuchik Seunebok Bayu Banda Alam dan Nurdin Ketua Kelompok Lindung Tani sedang bahas persoalan gajah.


ACEH TIMUR | TIMUTODAY.COM -- Tiga ekor gajah liar dilaporkan kembali berkeliaran di sekitar areal perkebunan dan ladang masyarakat di Desa Jambo Reuhat dan Desa Seunubok Bayu, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur sejak sepekan terakhir. Sabtu (15/8/2026).

Keberadaan kawanan gajah tersebut membuat masyarakat setempat khawatir, terutama karena lokasi jelajah satwa berdampingan dengan pagar milik PT Parama Agro Sejahtera. Bahkan, gajah dilaporkan beberapa kali masuk ke dalam area yang berada di balik pagar perusahaan tersebut.

Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Lindung Tani Banda Alam, Nurdin, mengatakan tiga ekor gajah tersebut saat ini terpecah menjadi dua kelompok. Satu kelompok terdiri dari seekor gajah, sementara dua ekor lainnya berada dalam kelompok berbeda.

Menurut Nurdin, pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk sementara telah memberikan bantuan berupa marcon sebagai salah satu upaya untuk menghalau gajah. Namun, petugas BKSDA belum dapat turun langsung ke lokasi karena sedang menangani konflik satwa di wilayah lain, termasuk penanganan gajah mati di Aceh Tamiang.


Kotoran gajah di area kebun warga.


“Untuk sementara pihak BKSDA memberikan bantuan berupa marcon. Mereka belum bisa turun ke lokasi karena sedang menangani konflik satwa di tempat lain dan juga menangani gajah mati di Aceh Tamiang,” kata Nurdin.

Ia menyebutkan, sebelumnya pihak FKL juga telah menjanjikan pembangunan pagar pancing untuk mengantisipasi masuknya gajah ke area perkebunan dan permukiman warga. Namun hingga kini, pagar tersebut belum juga dikerjakan.

Nurdin berharap pembangunan pagar yang telah dijanjikan tersebut dapat segera direalisasikan sebelum konflik antara manusia dan satwa liar semakin meluas.

“Harapan kami, pagar yang sudah dijanjikan segera dibuat. Ini penting untuk mengantisipasi gajah masuk ke ladang masyarakat dan mencegah terjadinya konflik,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Keuchik Jambo Reuhat, Zulhelmi, dan Keuchik Seunebok Bayu Banda Alam, Muktar. Keduanya berharap pemerintah dan pihak terkait memberikan perhatian serius terhadap keberadaan gajah liar yang semakin mendekati area aktivitas masyarakat.

Masyarakat berharap penanganan dapat dilakukan secara cepat dan persuasif dengan tetap memperhatikan keselamatan warga maupun kelestarian satwa yang dilindungi.

Pihaknya meminta pemerintah, BKSDA, serta pihak terkait untuk bersama-sama mencari solusi jangka panjang agar konflik manusia dengan gajah tidak terus berulang.

“Kami berharap pemerintah dan pihak terkait memberi perhatian khusus terhadap persoalan ini. Jangan sampai menunggu ada korban atau kerugian besar baru dilakukan penanganan,” pungkas Keuchik tersebut.

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Tiga Ekor Gajah Berkeliaran di Ladang Warga Banda Alam, Masyarakat Minta Pagar Penghalau Segera Dibangun
  • Tiga Ekor Gajah Berkeliaran di Ladang Warga Banda Alam, Masyarakat Minta Pagar Penghalau Segera Dibangun
  • Tiga Ekor Gajah Berkeliaran di Ladang Warga Banda Alam, Masyarakat Minta Pagar Penghalau Segera Dibangun
  • Tiga Ekor Gajah Berkeliaran di Ladang Warga Banda Alam, Masyarakat Minta Pagar Penghalau Segera Dibangun
  • Tiga Ekor Gajah Berkeliaran di Ladang Warga Banda Alam, Masyarakat Minta Pagar Penghalau Segera Dibangun
  • Tiga Ekor Gajah Berkeliaran di Ladang Warga Banda Alam, Masyarakat Minta Pagar Penghalau Segera Dibangun

Posting Komentar