Hardikda ke-67, Mulyadi: Belajar Sambil Berjuang, Berjuang Sambil Belajar

Kepala KUA Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur, Mulyadi, SH.I, M.Sos


ACEH TIMUR | TIMUTODAY.COM — Peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke-67 menjadi momentum untuk kembali merefleksikan perjalanan panjang pendidikan Aceh, mulai dari sejarah Darussalam, keberadaan Tugu Pena, hingga tantangan pendidikan di tengah perkembangan teknologi dan era digital.

Hal tersebut disampaikan Kepala KUA Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur, Mulyadi, SH.I, M.Sos, dalam refleksinya memperingati Hardikda Aceh ke-67 yang jatuh pada 2 September 2026.

Menurut Mulyadi, salah satu pesan penting dalam perjalanan pendidikan Aceh tercermin dari tulisan yang terdapat pada Tugu Pena, yakni “Belajar Sambil Berjuang, Berjuang Sambil Belajar.”

Ia mengaku masih mengingat pengalaman ketika dirinya menempuh pendidikan di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Saat mengikuti Ospek Fakultas, seorang mentor pernah menanyakan kepada mahasiswa baru mengenai tulisan yang terdapat pada Tugu Pena.

“Ketika itu kami tidak mampu menjawab. Kami setiap hari melewati tugu tersebut, tetapi tidak benar-benar memahami pesan yang ada di baliknya,” kenang Mulyadi.

Menurutnya, pertanyaan sederhana tersebut kemudian menjadi pelajaran penting bahwa mahasiswa tidak cukup hanya belajar untuk kepentingan pribadi. Ilmu harus mampu diterjemahkan menjadi perjuangan dan pengabdian kepada masyarakat.

“Tugu Pena bukan sekadar bangunan di persimpangan jalan. Pena merupakan simbol ilmu, sementara perjuangan adalah jalan pengabdian. Belajar adalah proses yang tidak pernah selesai,” ujarnya.

Ilmu Harus Menjadi Kekuatan Sosial

Mulyadi menilai pendidikan tidak boleh berhenti di ruang kelas, ijazah, gelar, maupun sertifikat. Pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang dapat membaca persoalan, memahami penderitaan masyarakat, mencari solusi, serta mengambil bagian dalam memperbaiki keadaan.

“Ilmu yang hanya berhenti di kepala akan menjadi pengetahuan pribadi. Tetapi ilmu yang turun menjadi tindakan dapat menjadi kekuatan sosial,” katanya.

Ia menegaskan, pendidikan harus memiliki keberpihakan terhadap kebenaran, kemanusiaan, keadilan dan kemaslahatan.

Di sisi lain, perjuangan juga menjadi ruang belajar bagi setiap manusia. Menurutnya, tidak semua pengetahuan dapat diperoleh dari ruang kuliah karena sebagian pelajaran justru lahir dari pengalaman menghadapi kemiskinan, keterbatasan, kegagalan, konflik dan berbagai persoalan kehidupan.

“Perjuangan itu sendiri merupakan sekolah kehidupan. Di sanalah teori diuji oleh kenyataan dan karakter ditempa oleh pengalaman,” ujarnya.

Darussalam dan Proyek Peradaban Aceh

Mulyadi juga mengaitkan perjalanan pendidikan Aceh dengan keberadaan Darussalam yang menjadi salah satu tonggak penting sejarah pendidikan di Aceh.

Baginya, pembangunan pendidikan Aceh sejak masa lalu menunjukkan bahwa para pendahulu menyadari masa depan Aceh tidak cukup dibangun melalui pembangunan fisik maupun kekuatan politik, tetapi harus dimulai dengan pembangunan manusia.

“Darussalam mengajarkan bahwa pendidikan membutuhkan keberanian untuk bermimpi besar. Para pendahulu tidak hanya berbicara tentang masa depan Aceh, tetapi membangun manusia yang dipersiapkan untuk mengisinya,” katanya.

Karena itu, momentum Hardikda ke-67 menurutnya tidak semestinya hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kualitas manusia yang sedang dilahirkan melalui sistem pendidikan Aceh.

Pendidikan Harus Menyatukan Ilmu, Iman dan Budaya

Mulyadi menyebut Aceh memiliki tradisi pendidikan yang kuat melalui dayah, meunasah, balai pengajian dan berbagai tradisi keilmuan masyarakat.

Karena itu, ia berharap pendidikan Aceh tidak mengalami keterputusan antara ilmu pengetahuan, agama dan kebudayaan.

“Anak Aceh harus mampu menguasai sains tanpa kehilangan iman, menguasai teknologi tanpa kehilangan adab, serta memahami dunia global tanpa melupakan sejarah dan identitas daerahnya,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak hanya menjadi generasi yang carong atau cerdas, tetapi juga memiliki karakter, integritas, tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama.

“Kecerdasan tanpa akhlak dapat menjadi kesombongan. Ilmu tanpa integritas dapat menjadi alat manipulasi. Teknologi tanpa etika dapat menjadi ancaman,” katanya.

Tantangan Pendidikan di Era Digital

Menurut Mulyadi, tantangan pendidikan saat ini berbeda dengan masa lalu. Jika dahulu masyarakat menghadapi keterbatasan dalam memperoleh informasi, generasi sekarang justru menghadapi banjir informasi.

Anak-anak dan generasi muda hidup berdampingan dengan media sosial, mesin pencari, kecerdasan buatan dan berbagai platform digital.

Karena itu, pendidikan Aceh dinilai perlu memperkuat literasi digital, literasi informasi, literasi agama dan literasi budaya secara bersamaan.

“Persoalannya sekarang bukan lagi apakah informasi tersedia, tetapi apakah generasi muda mampu membedakan fakta dan manipulasi, pengetahuan dan opini, serta kebebasan dan tanggung jawab,” jelasnya.

Ia berharap generasi Aceh mampu menguasai teknologi dan bersaing secara global, namun tetap memiliki akar budaya dan identitas yang kuat.

“Jangan sampai generasi kita mengenal dunia, tetapi tidak mengenal dirinya sendiri,” tegasnya.

Pemerataan Pendidikan Hingga Pedalaman Aceh

Sebagai seseorang yang menjalankan amanah di Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur, Mulyadi juga menyoroti pentingnya pemerataan pendidikan hingga ke wilayah pedalaman dan gampong.

Menurutnya, anak-anak di daerah memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan bermutu dan memiliki masa depan.

“Tidak boleh ada seorang anak kehilangan masa depan hanya karena ia lahir jauh dari pusat kota. Keadilan pendidikan adalah bagian dari keadilan sosial,” katanya.

Pemerataan pendidikan, lanjutnya, bukan hanya persoalan pembangunan gedung sekolah, tetapi juga menyangkut kualitas guru, akses teknologi, lingkungan belajar, pendidikan agama, kesempatan melanjutkan pendidikan serta dukungan keluarga dan masyarakat.

Hardikda Harus Menjadi Cermin

Mulyadi mengajak seluruh pihak menjadikan Hardikda sebagai momentum untuk bertanya secara lebih mendalam mengenai arah pendidikan Aceh.

“Apakah kita sedang membangun sistem pendidikan yang hanya mengejar angka, peringkat, sertifikat dan statistik? Ataukah kita sedang membangun manusia yang mampu menghadapi masa depan?” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan merupakan investasi lintas generasi. Hasilnya tidak selalu dapat dilihat dalam waktu singkat, tetapi akan menentukan kualitas masyarakat pada masa mendatang.

Ia kemudian kembali mengingat pesan Tugu Pena yang pernah ia dengar ketika menjadi mahasiswa.

“Belajar Sambil Berjuang, Berjuang Sambil Belajar.”

Bagi Mulyadi, kalimat tersebut semakin relevan di tengah perubahan zaman.

“Belajar bukan sekadar persiapan untuk hidup. Belajar adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Berjuang bukan akhir dari pendidikan, tetapi ruang tempat ilmu diuji dan karakter ditempa,” katanya.

Ia menegaskan, Aceh membutuhkan generasi yang memiliki pengetahuan sekaligus akhlak, kemampuan berpikir sekaligus keberanian berjuang, serta kemampuan mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budaya.

“Jika pendidikan mampu melahirkan manusia yang berilmu sekaligus beriman, kritis sekaligus beradab, modern sekaligus berbudaya, unggul sekaligus rendah hati, maka sesungguhnya kita sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mendidik anak. Kita sedang membangun peradaban,” pungkasnya.

Mulyadi menutup refleksinya dengan pesan bahwa Tugu Pena tidak boleh hanya menjadi monumen sejarah.

“Pena boleh menjadi monumen, tetapi ilmu harus menjadi gerakan; perjuangan boleh menjadi sejarah, tetapi pendidikan harus menjadi masa depan.”

Selamat Hari Pendidikan Daerah Aceh ke-67.

2 September 2026.

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Hardikda ke-67, Mulyadi: Belajar Sambil Berjuang, Berjuang Sambil Belajar
  • Hardikda ke-67, Mulyadi: Belajar Sambil Berjuang, Berjuang Sambil Belajar
  • Hardikda ke-67, Mulyadi: Belajar Sambil Berjuang, Berjuang Sambil Belajar
  • Hardikda ke-67, Mulyadi: Belajar Sambil Berjuang, Berjuang Sambil Belajar
  • Hardikda ke-67, Mulyadi: Belajar Sambil Berjuang, Berjuang Sambil Belajar
  • Hardikda ke-67, Mulyadi: Belajar Sambil Berjuang, Berjuang Sambil Belajar

Posting Komentar