Dari Pedalaman Aceh Timur Menuju Ruang Ujian Advokat, Sebuah Tekad untuk Membela Rakyat
![]() |
| Dr. (c) Romi Syahputra, S.H., M.H., CPM., CPArb peserta PKPA IKADIN - YARA Angkatan 2026 asal kabupaten Aceh Timur. |
BANDA ACEH | TIMUTODAY.COM -- Langkah itu dimulai dari sebuah daerah pedalaman di Kabupaten Aceh Timur.
Bukan dari gedung megah, bukan pula dari pusat kota. Tetapi dari Kecamatan Indra Makmu, sebuah kawasan yang jauh dari hiruk-pikuk pusat Provinsi Aceh. Dari sanalah tekad seorang pemuda untuk menjadi pengacara publik pertama dari Kecamatan Indra Makmu mulai diperjuangkan.
Namanya Dr. (c) Romi Syahputra, S.H., M.H., CPM., CPArb, yang juga seorang Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Peureulak, Aceh Timur.
Keinginan itu sederhana, tetapi memiliki tujuan yang besar, kelak dapat memberikan bantuan dan pendampingan hukum kepada masyarakat, terutama mereka yang kurang mampu, lemah, dan rentan ketika berhadapan dengan persoalan hukum.
![]() |
| Peserta PKPA IKADIN YARA Angkatan 2026 asal kabupaten Aceh Timur foto bersama mantan sekda kabupaten Aceh Timur di kantor Baitul Mal Aceh. |
Berangkat dari Pedalaman
Selasa pagi, 18 Agustus 2026, sekitar pukul 09.15 WIB, perjalanan itu dimulai.
Saya bersama Jamadon dan Ardiansyah berkoordinasi untuk bergerak menuju Banda Aceh. Kota yang menjadi tujuan perjalanan kami sekaligus tempat berlangsungnya Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) yang diselenggarakan oleh Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) bekerja sama dengan Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) dan Fakultas Hukum Universitas Samudra (Unsam) Langsa.
Target kami sederhana, tiba di Banda Aceh sore hari, beristirahat cukup, lalu keesokan paginya mengikuti pendidikan.
Namun perjalanan dari Aceh Timur menuju Banda Aceh tidak sepenuhnya berjalan mulus.
Di sejumlah daerah, kendaraan harus melambat akibat kemacetan. Pawai karnaval dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 membuat perjalanan sedikit tersendat.
Tetapi semangat untuk menuntut ilmu tidak ikut tersendat.
Kami terus melaju.
Setiba di Banda Aceh, kami sepakat mencari tempat penginapan yang tidak terlalu jauh dari lokasi pendidikan. Empat orang dari Aceh Timur kemudian berkumpul. Salah seorang teman, Fuadi, bahkan sudah lebih dahulu tiba di Banda Aceh.
Malam itu menjadi malam terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum sembilan hari perjalanan panjang sebagai calon pengacara publik dimulai.
![]() |
| Foto bersama anggota DPR - RI Dr. H. Nasir Djamil usai membuka acara PKPA IKADIN YARA Angkatan 2026 di asrama haji Banda Aceh. |
Hari Pertama, Memasuki Dunia Baru
Rabu, 19 Agustus 2026.
Pagi itu kami memasuki gedung besar Asrama Haji Banda Aceh, tempat pendidikan dilaksanakan.
Suasana berbeda langsung terasa. Ratusan calon pengacara publik dari berbagai kabupaten/kota di Aceh berkumpul dalam satu ruangan dengan tujuan yang sama.
Pendidikan tersebut dibuka oleh anggota DPR RI Dr. H. Nasir Djamil, didampingi Ketua YARA sekaligus Ketua DPD IKADIN Aceh, Safaruddin, S.H., M.H., serta sejumlah tamu undangan dari berbagai instansi dan daerah.
Dari ruangan itulah perjalanan pendidikan kami dimulai.
Selama sembilan hari, sejak sekitar pukul 08.30 WIB hingga sore hari, kami mendapatkan berbagai materi yang menjadi bekal dasar seorang calon advokat dan pengacara publik.
Hukum acara, praktik pendampingan hukum, etika profesi, penyelesaian perkara, hingga berbagai materi yang berkaitan dengan tugas seorang penegak hukum menjadi santapan kami setiap hari.
![]() |
| Peserta terlihat serius saat mengikuti pendidikan calon pengacara publik. |
Berawal dari Tidak Saling Kenal
Menariknya, sebagian besar peserta awalnya tidak saling mengenal.
Kami datang dari kabupaten dan kota yang berbeda. Latar belakang pekerjaan, pengalaman, usia, serta lingkungan kami juga berbeda.
Namun satu hal menyatukan kami, keinginan untuk menjadi penegak hukum yang berpihak kepada masyarakat.
Kami kemudian dibagi dalam beberapa kelompok dan mendapatkan mentor masing-masing.
Interaksi yang pada awalnya terasa kaku perlahan berubah menjadi komunikasi yang hangat. Hari demi hari, kami mulai mengenal nama, asal daerah, profesi, bahkan cerita kehidupan masing-masing.
Panitia dari IKADIN yang berasal dari berbagai daerah juga memberikan pelayanan yang sangat baik dan profesional.
Tanpa terasa, mereka bukan lagi sekadar panitia.
Mereka menjadi bagian dari keluarga baru kami.
![]() |
| Keluarga Besar Alumni PKPA IKADIN - YARA Angkatan 2026. |
Keluarga Besar PKPA IKADIN-YARA Angkatan 2026.
Dari Ruang Kelas Menuju Lapangan
Beberapa hari pertama, fokus kami masih tertuju pada pendidikan. Kesibukan mengikuti materi membuat kami belum terlalu dekat satu sama lain.
Namun semakin dekat dengan hari ujian profesi advokat, komunikasi semakin intens.
Kami saling bertanya, berdiskusi, berbagi pengalaman, bahkan saling memberikan semangat.
Menjelang ujian, kami juga mendapatkan kesempatan mengikuti studi lapangan untuk melihat secara langsung sejumlah lembaga kekhususan Aceh, di antaranya Baitul Mal, Dinas Syariat Islam dan Majelis Adat Aceh (MAA).
Kegiatan itu dipandu langsung oleh Safaruddin.
Bagi kami, sosok Safaruddin bukan sekadar ketua organisasi.
Ia seperti seorang ayah yang mempertemukan kami dalam satu ruang perjuangan.
Melalui gebrakan dan perjuangannya, kami yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat berkumpul, belajar, berdiskusi dan membangun persaudaraan.
Di mata masyarakat, Safaruddin juga dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat yang membutuhkan bantuan hukum. Dari tangan dan perjuangannya pula telah lahir banyak pengacara publik yang kemudian mengabdi di berbagai daerah.
Ketegangan Menjelang Ujian
Waktu sembilan hari terasa begitu cepat.
Tanpa terasa, hari ujian profesi advokat tiba.
Sabtu, 28 Agustus 2026, menjadi salah satu hari yang paling menegangkan bagi seluruh peserta.
Kami dibagi dalam dua kelompok, pagi dan siang. Masing-masing peserta diberikan waktu sekitar empat jam untuk menyelesaikan ujian.
Saat memasuki ruangan ujian, suasana berubah menjadi sunyi.
Tidak ada lagi canda. Tidak ada lagi obrolan.
Yang ada hanya lembar soal, pena dan konsentrasi.
Kami menghadapi 120 soal, termasuk soal pilihan ganda dan esai. Kami juga dituntut membuat surat kuasa serta surat gugatan berdasarkan ringkasan kasus yang diberikan.
Yang membuat ujian semakin menantang, beberapa pekerjaan harus dilakukan dengan tulisan tangan secara rapi tanpa bergantung pada buku acara maupun alat pendukung lainnya.
Pengawasan panitia juga sangat ketat.
Di tengah suasana itu, pikiran sempat terasa kosong.
Bahkan kondisi tubuh ikut bereaksi. Lambung terasa naik dan tubuh semakin tegang.
Pada saat itu, ada satu kalimat yang terus saya tanamkan dalam hati.
“Bismillah, ini bukan hanya untuk saya. Ini untuk masyarakat di daerah saya.”
Kalimat sederhana itu menjadi kekuatan.
Saya kembali melanjutkan ujian yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB hingga berakhir pada pukul 17.45 WIB.
Empat jam terasa begitu panjang.
Namun akhirnya semua dapat dilewati.
![]() |
| Romi Syahputra foto bersama Ketua YARA dan IKADIN Aceh Safaruddin. |
Bukan Sekadar Ujian
Alhamdulillah, seluruh rangkaian pendidikan dan ujian berjalan dengan lancar hingga hari terakhir.
Sore itu, sebelum kembali ke daerah masing-masing, kami hanya sempat duduk bersama beberapa teman peserta dari berbagai daerah.
Secangkir kopi menjadi teman terakhir.
Tidak ada materi hukum. Tidak ada soal ujian.
Yang ada hanya cerita, tawa dan saling menguatkan.
Kami berharap suatu hari nanti dapat kembali bertemu, bukan lagi sebagai peserta pendidikan, tetapi dalam momentum pengucapan sumpah sebagai advokat.
Malam harinya, satu per satu kami mulai meninggalkan Banda Aceh.
Kembali ke kabupaten dan kota masing-masing.
Kembali kepada keluarga.
Kembali kepada pekerjaan.
Tetapi ada sesuatu yang tertinggal di Banda Aceh: kenangan tentang sebuah keluarga baru yang lahir dari sembilan hari pendidikan.
![]() |
| Silahturahmi terakhir bersama kawan -kawan yang juga ditemani oleh Kaprodi Magister HKI Pascasarjana IAIN Langsa Azwir dan Maulid Al-Fata Wartawan Serambi Indonesia wilayah Aceh Timur. |
Pulang Membawa Harapan
Perjalanan ini pada akhirnya bukan hanya tentang mengejar gelar atau profesi.
Lebih dari itu, ini adalah perjalanan untuk mencari bekal agar kelak dapat berdiri di tengah masyarakat yang membutuhkan pendampingan hukum.
Bagi saya, perjalanan dari Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur, menuju Banda Aceh adalah langkah kecil dari sebuah cita-cita besar.
Saya ingin menjadi bagian dari orang-orang yang dapat memberikan bantuan kepada masyarakat kurang mampu dan kelompok rentan yang berhadapan dengan persoalan hukum.
Saya sadar, perjalanan menjadi seorang advokat masih panjang.
Setelah mengikuti pendidikan dan ujian profesi, masih ada tahapan magang selama dua tahun sebelum kemudian menjalani proses pelantikan dan pengambilan sumpah advokat sesuai ketentuan yang berlaku.
Tetapi setidaknya satu langkah telah dimulai.
Dari pedalaman Aceh Timur.
Dari sebuah tekad.
Dari perjalanan panjang.
Dan dari sebuah keyakinan bahwa hukum harus hadir untuk semua orang, termasuk mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk membayar jasa hukum.
Terima kasih kepada teman-teman PKPA IKADIN-YARA Angkatan 2026.
Terima kasih kepada kakak-kakak panitia yang telah memberikan pelayanan dan pendampingan selama pendidikan.
Terima kasih kepada Ketua YARA dan IKADIN Aceh, Safaruddin, S.H., M.H., serta seluruh pemateri yang telah berbagi ilmu.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan rekomendasi dan dukungan sehingga saya dapat mengikuti pendidikan ini.
Dan yang paling utama, terima kasih kepada keluarga yang tidak pernah berhenti memberikan doa dan dukungan.
Semoga seluruh kebaikan yang diberikan kepada kami menjadi amal yang mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT.
Aamiin.
Penulis, Dr. (c) Romi Syahputra, S.H., M.H., CPM., CPArb., asal Kabupaten Aceh Timur, peserta Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) IKADIN-YARA Angkatan 2026 berdasarkan rekomendasi Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si.








Posting Komentar